Valentine’s Day konon berasal dari kisah hidup seorang Santo (orang suci dalam Katolik) yang rela menyerahkan nyawanya demi cinta orang lain. Nama orang suci itu Santo Valentinus. Namun sejarah Gereja sendiri tidak menemukan kata sepakat tentang siapa sesungguhnya sosok Santo Valentinus sendiri. Bahkan banyak yang kemudian mengakui bahwa sesungguhnya, kisah mengenai Santo Valentinus sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat dan diyakini hanya merupakan mitos atau dongeng, sebuah eufismisme dari ‘kedustaan’. Sebab itu, Gereja sebenarnya telah mengeluarkan surat larangan bagi pengikutnya untuk ikut-ikutan merayakan ritual yang tidak berdasar ini.
Saat ini ada banyak cerita tentang Santo Valentinus. Sekurangnya ada tiga nama Valentine yang diyakini meninggal pada 14 Februari (
). Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa kekuasaan Kaisar Romawi. Namun ini pun tidak pernah ada penjelasan yang detil siapa sesungguhnya tokoh “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Tiga nama Santo yang menjadi martir tersebut yakni seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna (modern Terni), dan seorang martir di provinsi Romawi Afrika. Koneksi antara ketiga martir ini dengan Hari Valentine juga tidak jelas.
Keputusan Sang Kaisar di mana setiap titahnya merupakan hukum yang sama sekali tidak boleh ditawar-tawar menggegerkan rakyatnya. Banyak yang sesungguhnya menolak hal ini, namun mereka tidak berani untuk menentangnya secara terang-terangan. Karena setiap yang melanggar titah Sang Paduka taruhannya teramat mahal: nyawanya sendiri.
Namun di luar kelaziman pada zaman itu, dua tokoh Gereja—Santo Valentinus dan Santo Marius—diam-diam menentang keputusan Kaisar Claudius dan menyebutnya sebagai hal yang menyalahi kecenderungan alamiah manusia. Namun tidak disinggung mengapa pula kedua tokoh Gereja ini tidak memprotes aturan Gereja sendiri yang mengharuskan para Pastor dan Biarawati hidup selibat. Bahkan diduga kuat, kedua orang ini juga menerapkan hidup selibat. Sayangnya, tidak ada petunjuk tentang hal ini.
Secara diam-diam, kedua tokoh Gereja ini tetap menikahkan pasangan muda yang ingin menikah dan menjadi konselor atau penasihat bagi kaum muda yang mengalami kendala dalam berhubungan dengan pasangannya.
Suatu waktu Kaisar Claudius mendengar berita tersebut dan langsung memerintahkan penangkapan atas keduanya. Santo Valentinus dan Santo Marius pun dijebloskan ke dalam penjara. Vonis mati pun dengan cepat dijatuhkan.
Dalam versi ini, di dalam penjara Santo Valentinus jatuh hari pada anak seorang sipir. Cintanya mendapat sambutan hangat. Anak gadis sang sipir atau penjaga penjara ini pun jatuh hati padanya. Sang gadis sering mengunjungi Valentinus hingga kekasihnya dihukum mati.
Cerita ini menjadi salah satu mitos yang paling dikenang hingga pada 14 Februari 496 M, Paus Gelasius meresmikan hari itu sebagai hari untuk memperingati Santo Valentinus (
1998). Walau demikian, Paus Gelasius sendiri mengakui bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui secara pasti mengenai martir-martir ini. Walau demikian, Gelasius II tetap menyatakan tanggal 14 Februari tiap tahun sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus. Ada yang mengatakan, Paus Gelasius II sengaja menetapkan hal ini untuk menandingi hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Hari Valentine yang oleh Paus Gelasisu II dimasukkan dalam kalender perayaan Gereja, pada tahun 1969 dihapus dari kalender gereja dan dinyatakan sama sekali tidak memiliki asal-muasal yang jelas. Sebab itu Gereja melarang Valentine’s Day dirayakan oleh umatnya. Walau demikian, larangan ini tidak ampuh dan V-Day masih saja diperingati oleh banyak orang di dunia.
Ibarat film, maka Valentine’s Day juga punya tokoh-tokoh utamanya. Siapa saja mereka? Inilah para bintang-bintangnya:
SANTO VALENTINUS
Istilah Valentine’s Day berasal dari nama Santo Valentinus. SIapa sosok Santo Valentinus sesungguhnya? Tidak ada yang tahu. Sehingga dalam usaha menghapus perayaan dan peringatan yang tidak ada dasarnya, tidak diketahui asal-muasalnya, Gereja pernah menghapus peringatan Valentine’s Day dari Kalender Gerejawi pada tahun 1969 dan melarang jemaatnya untuk merayakan Hari Kasih Sayang tersebut.

Dalam perayaan Hari Valentine, orang biasa mengucapkan “Be My Valentine” kepada pasangannya. Bagi banyak kalangan, ucapan ini seolah-olah memiliki arti sebagai “Maukah kamu menjadi yang terkasih bagiku?” atau “Maukah Kamu jadi kekasihku?”. Anggapan ini ternyata salah. Ken Sweiger dalam artikel “
Should Biblical Christians Observe It?” yang bisa diakses pada situs www.korrnet.org mengatakan bahwa istilah “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang memiliki arti sebagai: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini dahulu ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, dewa atau tuhan orang Romawi Kuno. Maka disadari atau tidak, ucapan “to be my Valentine”, dengan sendirinya mengandung arti meminta pasangan kita menjadi “Sang Maha Kuasa” atas diri kita. Hal ini tentu merupakan perbuatan syirik.
CUPID
Mitologi Yunani dan Roma Kuno memang sangat mengagungkan kesempurnaan ragawi dan juga syahwat. Tidak heran, jika para dewa dewi yang dipercayai mereka sebagai tuhannya pun disimbolisasikan dalam bentuk sosok manusia, laki-laki dan perempuan, yang dianggap sempurna tubuh dan juga kecantikan maupun ketampanannya. Jika seorang dewi maka mereka disimbolisasikan—dalam ribuan patung dan juga lukisan—sebagai seorang perempuan muda yang cantik, memiliki tubuh yang menggoda, dan mempunyai hasrat yang bergelora. Demikian pula penggambaran mereka untuk para dewanya, digambarkan sebagai seorang laki-laki perkasa, rupawan, dan juga sama-sama menyimpan hasrat yang dahsyat.

Salah satu dewa yang mereka puja adalah Cupid (Latin: Cupido, Amor, atau Eros), atau dalam bahasa Inggris juga biasa disebut sebagai The Desire (yang memiliki arti sebagai ‘hasrat’, ‘nafsu’, atau ‘syahwat’). Dalam mitologi Roma Kuno atau Yunani Kuno, Cupid sering digambarkan sebagai sosok bayi montok nan rupawan dan bersayap dengan panah di tangannya. Namun ada pula penggambaran Cupid sebagai seorang lelaki rupawan yang bersayap. Hanya saja,—maaf—baik dalam bentuk bayi atau pun sudah dewasa, Cupid sama sekali tidak ditutupi sehelai benang pun alias bugil. Bisa jadi, inilah pesan asli dari yang disebut sebagai “Cinta” yaitu sesungguhnya adalah “Hasrat atau Nafsu syahwat”.
Di dalam perayaan Valentine’s Day, Cupid tidak boleh tertinggal. Biasanya, dalam kertas surat atau kartu ucapan, sosok Cupid yang telanjang lengkap dengan sayap dan busurnya diletakkan di atas atau di bawah tulisan: “Be My Valentine’s…” Dalam bentuk bayi, Cupid sering juga ditemui di dalam dekorasi pusat-pusat perbelanjaan menjelang bulan Februari sepanjang tahun dan diselingi dengan hiasan hati atau bunga yang didominsi warna merah atau pink dan biru.
Dalam kepercayaan pagan, Cupid merupakan anak dari Nimrod ‘The Hunter’ alias Dewa Matahari (Raja Namrudz) dengan Dewi Aphrodite, Sang Dewi Kecantikan yang popular dengan sebutan Dewi Venus. Cupid atau Eros ini dianggap sebagai Dewa atau Tuhan Cinta, karena raganya yang sangat rupawan. Bahkan dalam mitologi tentangnya diceritakan, ibu kandungnya pun tertarik secara seksual dengannya dan melakukan perzinaan dengan anaknya sendiri! Sesuatu yang memang dianggap lumrah dalam masyarakat pagan Roma.
PAUS GELASIUS I
Gelasius terpilih menjadi Paus pada 1 Maret 492 M dan menerima warisan berupa konflik dan ancaman perpecahan (skisma) antara Gereja Barat yang berpusat di Imperium Romawi dengan Gereja Timur yang berpusat di Konstantinopel (Istanbul sekarang), Turki.
Paus Gelasius I tercatat dalam sejarah sebagai seorang pemimpin Gereja (Katolik) yang ‘meresmikan’ atau mengadopsi perayaan paganisme Romawi Kuno, The Lupercalia Festival, menjadi satu perayaan keagamaan Gereja dan masuk dalam deretan hari-hari besar gerejawi. Ketika itu, Gelasius menulis surat dan mengirimkannya kepada seorang anggota senat Roma bernama Andromachus. Isi surat tersebut menyatakan bahwa kontroversi tentang festival kesuburan dan pemurnian “The Lupercalia Fest”, yang sedikit demi sedikit dianggap tergusur oleh ajaran kekristenan dan hal ini menuai kecemasan di sejumlah kalangan petinggi Roma akan dijaga dan dipelihara oleh Gereja dan akan diadopsi menjadi salah satu hari perayaan gerejawi.
Gelasius menyatakan, Festival Lupercalian tersebut akan diberi bungkus baru dan akan “dikombinasikan” dengan perayaan
Mary The Virgin (Perawan Maria) yang sering disebut “Candlemas”, yang berlangsung 40 hari setelah perayaan Natal (25 Desember), yang sebenarnya berlangsung tiap tanggal 2 Februari. Namun oleh Gelasius, perayaan Mary The Virgin digeser menjadi 14 Februari dan disatukan dengan hari perayaan The Lupercalian Festival. Perayaan baru ini diberi label baru dengan sebutan “The Valentine’s Day”.
Perayaan Hari Valentine kemudian resmi menjadi salah satu perayaan gerejawi dan berabad kemudian, pada sekitar tahun 1960-an, Gereja secara resmi menghapus perayaan ini dari daftar kalender gereja. TIndakan ini merupakan bagian dari upaya gereja untuk menghapus berbagai ritual yang sebenarnya tidak diketahui asal-usulnya atau sekadar mitos yang tidak berdasar.
Sesungguhnya, banyak sekali perayaan maupun ritual paganisme Roma yang diadopsi oleh Gereja hingga sekarang. Hari Natal yang diperingati Gereja Barat tiap tanggal 25 Desember pun sebenarnya berasal dari ritual perayaan hari kelahiran Nimrudz The Son of God, anak Dewa Matahari. Tanda salib pun sebenarnya bukan berasal dari tiang salib tetapi dari dua lintasan cahaya yang saling berpotongan dan ini sudah lama menjadi simbol dari Dewa Nimrudz.
KAISAR CLAUDIUS II
Nama aslinya Marcus Aurelius Claudius Augustus Gothicus (10 Mei 213/214 – Januari 270 M), atau lebih dikenal sebagai Claudius II, seorang Kaisar Imperium Romawi. Claudius II memerintah Roma hanya selama dua tahun (268-270), namun di masa kekuasaannnya, Roma memperoleh sejumlah masa kegemilangan dan sebab itu dia dianugerahi sebuah gelar keagamaan.
Claudius pernah memimpin angkatan bersenjata Imperium Roma saat pertempuran melawan kaum Goths dalam Battle of Naissus, September 268. Claudius, seperti juga pendahulunya Maximinus Thrax, menghadapi penentangan kaum barbarian. Di masa kekuasaannya yang hanya sekitar dua tahun, Claudius harus membangun angkatan bersenjata yang kuat untuk menghadapi berbagai ancaman pemberontakan dari dalam maupun musuh dari luar.
Sebab itulah, Claudius sangat berambisi untuk membangun sebuah angkatan bersenjata Imperium Romawi yang kuat, kokoh, dan perkasa. Bagi Claudius, angkatan perang semacam itu hanya bisa dibangun jika para tentaranya terdiri dari para pemuda yang juga kuat, fokus, disiplin, dan dan terlatih dengan baik. Bagi Claudius, seorang tentara yang kuat dan tangguh hanya bisa dipenuhi oleh para pemuda yang tidak memikirkan hal-hal lain selain penunaian tugas terhadap negara. Claudius menganggap bahwa para pemuda yang tergabung dalam legiun istimewanya harus sungguh-sungguh berkosentrasi dalam tugasnya. Salah satu yang dianggap Claudius sebagai penghalang dan pengganggu konsentrasi adalah hubungan antara tentaranya dengan para perempuan Roma.
Maka Kaisar Claudius pun mengeluarkan peraturan bahwa para pemuda yang tergabung dalam Legiun Romanya tidak boleh berhubungan apa pun dengan para perempuan, bersahabat, berpacaran, atau bahkan menikah. Hal ini tentu dirasa sangat berat oleh para pemuda Roma. Namun mereka juga tidak berani untuk menentangnya karena hukuman yang akan diterima jika ketahuan sangatlah berat.
Dalam kondisi inilah, menurut mitos Valentine Day, muncul seorang pemuka agama yang disebut Santo Valentine yang secara diam-diam melakukan upaya peresmian hubungan para pemuda dengan pemudi Roma, dan menikahkannya.
Suatu waktu Claudius mendengar hal ini dan murka besar. Santo Valentinus ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Mitos ini sudah kita ketahui akhirnya, dan Santo Valentinus pun menjelma menjadi sosok misterius yang kepopulerannya di Barat hanya berada di bawah Yesus Kristus, di mana Hari Valentine menjadi perayaan paling meriah di Barat setelah Hari Natal di penghujung Desember tiap tahun.
PEBISNIS
Sebenarnya, Hari Valentine tidak akan menjadi semeriah dan segemerlap seperti sekarang jika tanpa adanya campur-tangan para pebisnis. Sudah menjadi hukum kapitalisme, bahwa para pebisnis senantiasa mencari-cari celah sekecil apa pun guna dijadikan obyek bisnis yang bisa mendatangkan keuntungan material bagi dirinya. Celah ini termasuk perayaan-perayaan keagamaan, yang oleh mereka dijadikan sebagai ‘perayaan bisnis’.

Sejumlah pebisnis yang harus bertanggungjawab atas dilestarikannya Hari Valentine antara lain adalah pebisnis kartu ucapan, pebisnis bunga, pebisnis media massa, pebisnis coklat, dan sebagainya. Ada banyak orang yang memanfaatkan momentum ini dan memperalatnya menjadi momentum mengeruk keuntungan yang luar biasa banyaknya, tanpa peduli bahwa yang dimanfaatkannya merupakan suatu perayaan yang bersifat merusak moral dan kemanusiaan.
Salah satu orang yang harus bertanggungjawab adalah pemilik industri kartu ucapan terbesar dunia, Hallmark. Di dunia Barat, bisnis kartu ucapan pada hari Valentine mencapai rekor tertinggi setelah Hari Natal. Kebanyakan yang membeli kartu ucapan Valentine adalah perempuan yang mencapai prosentase lebih dari 80%.
Di Amerika Serikat, lebih dari 50% kartu ucapan Valentine yang beredar berasal dari perusahaan Mallmarks Card yang berbasis di Kansas City, Missouri. Perusahaan yang didirikan oleh Joyce C. Hall pada tahun 1910 berawal dari kebiasaan Joyce C. Hall yang saat itu baru berusia 18 tahun membeli kartu ucapan. Pada tahun 1915, Joyce muda melihat banyak kartu ucapan menjelang hari Valentine dijual. Dua tahun setelah itu Joyce bersama saudaranya, Rollie, memulai usaha untuk membuat kartu.
Usahanya yang memakai bendera Hallmark berkembang. Di setiap kartu ucapan yang diproduksinya, diterakan nama ‘Hallmark’ dan hal tersebut berlangsung hingga hari ini. Bahkan sejak tahun 2001, usaha pembuatan kartu ucapan tersebut merambah ke bidang pertelevisian yang disponsori NBC yang sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 1951.
Saat ini, tak kurang dari 18.000 orang menjadi karyawan penuh Hallmark dengan 4.500 pekerja bertugas di Kansas, pusat dari perusahaan Hallmark. Di antara mereka terdapat 800 seniman, desainer, penulis, penyair, dan juru foto. Sampai sekarang tercatat sekitar 48.000 model kartu ucapan telah diproduksi Hallmark, kebanyakan kartu ucapan Natal dan Valentine.
Di Amerika Serikat, Miss Esther A. Howland (1828-1904) tercatat sebagai orang pertama yang membuat dan mengirimkan kartu valentine pertama. Acara Valentine di negeri Paman Sam ini telah dirayakan besar-besaran sejak tahun 1800 dan pada perkembangannya, momentum tersebut telah menjadi perayaan bisnis yang sangat menggiurkan. (
Selengkapnya Baca: Eramuslim Digest Edisi 5: The Dark Valentines, Ritual Setan yang Sekarang Dipuja)
Misteri Valentine’s Day (4): Mitos-mitos Seputar Valentine
Seluruh perayaan terkait paganisme dipenuhi berbagai mitos dan legenda. Demikian pula dengan Valentine’s Day yang juga dipenuhi berbagai mitos dan kepercayaan yang bahkan sama sekali tidak masuk akal. Apa saja mitos seputar Valentine’s Day? Inilah di antaranya:
- Pada perayaan Lupercalia, sebuah ritual paganisme yang dipercaya sebagai asal muasal Valentine’s Day, para gadis di Roma berhimpun dan menuliskan nama-nama mereka dalam selembar kecil kertas dan mengumpulkannya dalam sebuah wadah besar. Para pemuda Roma yang juga dihimpun di tempat yang sama satu-persatu mengambil sebuah kertas yang telah berisi nama seorang gadis. Para gadis dan pemud apercaya, di hari itu mereka akan menmukan jodohnya sampai dengan bertemunya mereka pada hari Lupercalia tahun berikutnya.
- Di Eropa, terutama di daerah Wales (Inggris) dan sekitarnya, banyak anak kecil pada hari 14 Februari di dandani layaknya anak dewasa. Mereka berkeliling dari rumah ke rumah sambil bernyanyi dan menari, berputar-putar layaknya pasangan muda-mudi yang tengah riang gembira.
- Juga di wilayah Wales dan sekitarnya, di hari 14 Februari, para pemuda akan menghadiahkan sendok kayu pada kekasihnya sebagai tanda kasih sayang. Bentuk hati, kunci, disertai nama pasangannya adalah hiasan paling favorit untuk diukir di atas sendok kayu tersebut.
- Di Romawi Kuno pula, dan ini masih dilakukan sejumlah keluarga, pada tanggal 14 Februari para gadis akan menerima hadiah berupa busana dari para pemuda. Jika sang gadis menerima hadiah tersebut maka ini adalah tanda bahwa sang gadis bersedia dinikahi si pemuda dan menjadi isterinya.
- Banyak orang di Eropa percaya, jika mereka melihat camar melayang di udara bertepatan dengan hari Valentine, maka ini berarti ia akan menikah dengan seorang pelaut. Sementara, jika seorang wanita melihat burung pipit melayang di atasnya tepat di hari Valentine, maka dia akan menikah dengan seorang pria miskin, walau demikian mereka akan tetap berbahagia.Namun jika yang dilihatnya adalah burung gereja, maka ini pertanda kemujuran. Seorang jutawan akan melamar sang gadis, atau jika yang melihat seorang pemuda, maka dia kaan mendapatkan seorang kekasih yang kaya raya.
- Ada yang unik juga menyangkut Hari Valentine. Bukan coklat, bukan mawar, bukan pula sebuah boneka berwarna biru dan pink, tetapi sebuah kursi besar yang di Barat dikenal sebuah Kursi Cinta (The Love Chair). Awalnya kursi ini merupakan sebuah kursi yang didesain khusus untuk seorang perempuan dewasa Eropa yang mengenakan gaun besar dan lebar, seperti busana perempuan terhormat di abad pertengahan di Eropa, namun dalam perkembangannya, karena fesyen perempuan di Eropa sudah meninggalkan gaun lebar dan besar, maka kursi ini pun dijadikan sebagai sebuah kursi yang pas sebagai tempat bermesraan bagi sepasang kekasih. Bagi yang meyakini Hari Valentine sebagai hari penuh berkah, maka mereka akan berlomba-lomba untuk bisa duduk di kursi ini bersama pasangannya di malam Valentine.
- Jika Anda adalah seorang perempuan yang tengah menunggu lamaran seorang pria, maka ambilah setangkai buah apel yang masih ada tangkainya. Putarlah apel itu dengan tangan Anda memegang tangkai apel tersebut. Di saat apel itu berputar, sebutlah lima atau enam pria yang ingin Anda nikahi. Saat tangkai apel tersebut putus, maka nama pria yang Anda sebut adalah orang yang tepat untuk Anda nikahi. Demikian pula sebaliknya jika Anda seorang pria.
- Tepat pada Hari Valentine, petiklah sekuntum bunga Dandelion yang tengah sempurna mengembang. Berdirilah searah dengan arah angin bertiup lalu tiuplah bunga tersebut hingga putik-putiknya beterbangan ke udara. Lalu hitung, ada berapa putik yang masih tersisa melekat pada bunganya. Itulah jumlah anak yang akan Anda miliki setelah Anda menikah.
- Cara lain untuk mengetahui jumlah anak bertepatan dengan Hari Valentine bisa juga lewat medium buah apel. Potonglah apel tepat di tengahnya, lalu akan terlihat jumlah biji apel yang terletak di bagian dalam. Hitunglah. Maka itulah jumlah anak yang akan Anda miliki.
- Apakah kekasih Anda menghadiahi Anda dengan sebatang coklat atau sekuntum bunga? Jika dia memberimu sekuntum bunga, maka dia menginginkan hubungan yang abadi, penuh dengan cinta, dan suasana romantis. Namun jika dia memberimu sebatang coklat, maka dia ingin lebih dari hubungan yang telah terbina. Dia ingin hubungannya juga dipenuhi dengan gelora “cinta” alias syahwat! (Selengkapnya Baca: Eramuslim Digest Edisi 5: The Dark Valentines, Ritual Setan yang Sekarang Dipuja)
Misteri Valentine’s Day (5): Valentine’s Day dan Gereja

Pemeluk Kristiani banyak yang percaya dan meyakini bahwa Hari Valentine merupakan salah satu hari raya keagamaan mereka. Bahkan mereka menyamakan dengan hari-hari raya yang disucikan lainnnya. Walau demikian, tidak semua pemeluk Kristen menganggap Hari Valentine merupakan hari raya kekristenan.
Ada pula yang kritis dan menyatakan, “Hari Valentine sama sekali tidak ada di dalam Injil, baik Injil Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.” Sayang, yang bersikap demikian jumlahnya lebih sedikit ketimbang yang mengikut saja ‘tradisi’ yang ada tanpa mau berpikir kritis.
Walau meyakini bahwa Hari Valentine merupakan salah satu hari raya kaum Kristiani, jika ditanya asal-muasal Hari Valentine, maka mereka akan menjawab bahwa momentum itu berasal dari hari raya orang-orang Pagan Romawi Kuno yang diadopsi oleh Gereja menjadi salah satu hari raya Kristen. Sejarah yang terjadi memang benar demikian. Paus Gelasius I merupakan orang yang bertangungjawab atas di adopsinya hari raya pagan ini menjadi hari raya Kristen. Dan Gelasius agaknya memiliki alasannya sendiri.
Agama Kristen masuk ke Roma dibawa oleh Saint Peter dan Saint Paul, setelah Yesus dikabarkan meninggal pada tahun 33 Masehi. Para penginjil dari Timur Tengah secara aktif menyebarkan agama tersebut ke seluruh negeri di mana mereka bisa jangkau.
Penyebaran Kekristenan di Roma, juga di daerah lainnya, tidak berjalan semulus seperti yang direncanakan. Ada penentangan di sana-sini. Dengan penuh ketabahan, kecerdikan, dan juga keuletan, para penginjil membentuk komunitas-komunitas Kristen di sejumlah tempat. Awalnya tentu bersifat tertutup. Agar kekristenan bisa diterima oleh masyarakat Roma yang menganut paganisme dan meyakini bahwa Tuhan yang berkuasa di dalam kehidupan ini berbentuk Dewa-Dewi yang menjelma sebagai manusia sempurna—apakah itu perempuan atau lelaki—maka mau tidak mau kekristenan harus beradaptasi dengan kepercayaan pagan Roma kuno ini. Maka diadopsilah banyak sekali kepercayaan-kepercayaan, tahayul-tahayul, mitos-mitos, dan aneka ritual maupun simbol paganisme.
Hal ini seperti ketika agama Islam dibawa masuk oleh Walisanga di Tanah Jawa, di mana para wali tersebut konon berupaya memadukan unsur-unsur Hindu dengan nilai-nilai keislaman. Sebab itulah, wajah Islam di Jawa dipenuhi dengan unsur mistik dan bahkan terkesan musyrik, yang sesungguhnya sama sekali dilarang dalam agama Allah SWT ini.
Di Roma, bertahun-tahun pengadopsian tradisi dan kepercayaan Paganisme dilakukan oleh para penginjil agar masyarakat kota tersebut mau menerima kekristenan. Perjuangan para penginjil ini tidak sia-sia. Warga Roma akhirnya bisa menerima mereka karena warga Roma menganggap kekristenan yang ada tidak berbeda dengan agama pagan yang sudah dianut mereka secara turun-temurun. Dalam masa kekuasaan Kaisar Konstantine, Kristen dijadikan agama resmi Kekaisaran Romawi dengan di sana-sini dipenuhi unsur dan simbol Paganisme. Hal ini sampai sekarang tetap dipertahankan dalam tradisi Gereja di mana Tahta Suci Vatikan sendiri dipenuhi oleh banyak sekali simbol dan warisan tradisi paganisme.
Simbol Pagan Yang Diadopsi
Perayaan Valentine merupakan salah satu hasil kompromi antara tradisi Pagan Romawi dengan nilai-nilai kekristenan. Paus Gelasius melihat bahwa setiap awal hingga pertengahan Februari, orang-orang di Roma secara bersemangat merayakan Festival Lupercalia, yang dianggap memiliki daya magis dalam hal kesuburan, kesuburan lahan pertanian maupun kesuburan biologis manusia. Kepercayaan orang-orang Roma dalam perayaan Lupercalis ini sangat kental sehingga Gelasius menganggap mustahil jika perayaan tersebut dihapus begitu saja.
Agar orang-orang Romawi bisa menerima kekristenan, maka Lupercalia Festival ini diberi bungkus baru dengan nama Hari Valentine. Apalagi ‘perayaan baru’ ini dilengkapi dengan mitos tokoh Santo Valentinus yang dikatakan hidup di masa Kaisar Claudius. Kisah tentang Santo Valentinus dibuat sedemikian rupa sehingga banyak mendapat simpati dari para pemuda dan pemudi Roma yang memang secara tradisi memiliki hasrat kuat di dalam bidang ‘percintaan’.
Ensiklopedia Katolik sendiri tidak bisa memastikan siapa sesungguhnya sosok yang dikenal dunia selama berabad-abad sebagai Santo Valentinus. Berabad-abad kemudian, perayaan Valentine yang dibuat oleh Paus Gelasius, pada tahun 1960-an dihapus dari kalender tahunan Gereja dengan alasan bahwa perayaan tersebut sesungguhnya tidak memiliki dasar sejarah yang kuat dan sekadar berasal dari mitos. Namun oleh para pebisnis, momentum ini terus dihidup-hidupkan dengan berbagai cara dan hasilnya seperti yang ada sekarang ini: Hari Valentine tetap diyakini sebagai bagian dari tradisi Gerejawi, padahal anggapan ini tidak benar adanya.
(Selengkapnya Baca: Eramuslim Digest Edisi 5: The Dark Valentines, Ritual Setan yang Sekarang Dipuja)
Kabar terbaru mengenai perayaan Valentine’s Day datang dari Negeri Beruang Merah, Rusia, seperti yang dilansir kantor berita
Reuters, Kamis (10/2) yang mewartakan bahwa Pemerintah Rusia di Provinsi Belgorod menyerukan agar institusi pendidikan seperti sekolah-sekolah juga institusi pemerintah lainnya untuk tidak melangsungkan perayaan hari kasih sayang
Valentines Day. Larangan ini mengacu pada pemikiran bahwa
Valentine adalah fenomena asing yang tidak menyehatkan.
walau kemungkinan mendapat tentangan dari beberapa pihak namun kesepakatan tersebut telah ditandatangani oleh Wakil Gubernur Belgorod dan segera ditanggapi secara responsif juga direstui oleh uskup Gereja Ortodox Rusia di provinsi tersebut.Banyak klub malam dan pusat bisnis lainnya di provinsi yang terletak 600 kilometer dari selatan kota Moskow tersebut juga diminta untuk tidak melakukan hal yang spesial pada tanggal 14 Februari nanti.
Menurut konsultan pemerintah Provinsi Grigory Bolotnikov Hal tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan spiritual, sehingga pemerintah provinsi tersebut meminta para pejabat untuk melarang diadakannya perayaan Hari Valentine di pusat-pusat pendidikan dan kebudayaan.
“Atmosfir dari perayaan ini tidak mendorong pembentukan spiritual dan nilai-nilai moral pada anak muda,” ujarnya singkat.
Dengan larangan ini juga semakin memperlihatkan ominasi Gereja Ortodox Rusia kini berkembang dengan pesat sejak runtuhnya kekuasaan Uni Soviet pada tahun 1991 dan menikmati masa keemasannya dengan kepemimpinan Kremlin. Demikian Hari Valentine juga turut berkembang semenjak runtuhnya Uni Soviet, membuat Rusia semakin dikenal oleh dunia luar. Beberapa negara pun telah menyerukan juga pelarangan perayaan ini seperti beberapa negara di Timur-Tengah.
Setelah mengetahui seluk beluk sejarah awal Valentine’s Day, masihkah kita akan
kekeuh ikut-ikutan merayakannya. Sudah saatnyalah
Muda-mudi Islam bangkit dan membuang jauh rasa inferior terhadap budaya-budaya barat dan umat lain yang tidak sedikit yang sesat dan merusak. Dan bagi mereka yang tetap merayakannya, hanya satu kata yang perlu diingat,
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya? (QS. Al-Isra’ [17]: 36).